Sinarkalteng.com, MUARA TEWEH – Jauhnya jarak, akses yang sulit, hingga jaringan komunikasi yang belum merata menjadi tantangan nyata bagi pendidikan di Kecamatan Gunung Purei. Namun, hal itu tidak boleh dijadikan alasan untuk menurunkan kualitas layanan bagi anak‑anak di pedalaman. Pesan tegas ini disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Barito Utara, M Iman Topik, saat memimpin rapat kerja dan pemantauan bersama Korwil Pendidikan, pengawas, kepala sekolah, dan para guru setempat, Sabtu (9/5/2026).
“Gunung Purei memang tidak mudah dijangkau. Namun justru di sinilah semangat ‘pendidikan untuk semua’ diuji,” ujarnya. Ia menegaskan hak belajar anak tidak boleh dibatasi oleh lokasi.
Ada empat fokus utama peningkatan mutu tahun ini, mulai dari penguatan literasi dan numerasi guna mengangkat hasil asesmen siswa, hingga mengubah peran pengawas menjadi pendamping dan mitra pengembangan kemampuan mengajar. Para guru didorong memanfaatkan sarana seperti Platform Merdeka Mengajar serta menyusun materi yang relevan dengan potensi dan lingkungan setempat.
Masih ada pula tugas mendesak: memetakan ulang seluruh anak usia sekolah yang belum terlayani atau berisiko putus sekolah agar tidak ada satu pun yang terlewat. Pengelolaan dana BOS dan kelengkapan fasilitas juga diperiksa cermat, dengan instruksi agar laporan kebutuhan dan kerusakan disampaikan secara terbuka dan cepat.
Di akhir arahannya, Iman Topik memberikan penghargaan tulus kepada para pendidik yang tetap setia mengabdi di tengah keterbatasan. Ia optimis indeks mutu pendidikan Gunung Purei akan membaik pada tahun 2026 ini berkat kerja sama semua pihak.
“Jarak tidak mengurangi hak masa depan mereka. Bagi anak‑anak di sini, sekolah adalah pusat dunia mereka—dan tidak ada tempat yang terlalu jauh untuk kita perjuangkan,” pungkasnya. (Sah)












